Jumat, 17 April 2015

MELEPAS DENGAN MEMBERI
(DANA)

"Give, even if you only have a little." -Buddha-

Sisi aktif dari pikiran tanpa kemelekatan adalah dengan pikiran yang melepas. Wujud dari pikiran yang melepas adalah dengan melaksanakannya secara nyata dalam membentuk memberi (dana). Landasan dasar yang paling penting bagi pengembangan spiritual adalah berdana atau pemberian. Di dalam Kitab Tipitaka Pali, berdana merupakan unsur pertama dari tiga dasar tindakan bermanfaat, unsur pertama dari empat sarana yang memberikan manfaat bagi makhluk lain dan unsur pertama dari sepuluh parami atau kesempurnaan.

Dengan berdana (mengembangkan kedermawanan), kita dapat melemahkan keserakahan  (lobha) dan kebencian (dosa), serta mendorong keuletan pikiran yang memungkinkan hancurnya kegelapan batin (moha). Hingga akhirnya akan membawa kepada kebahagiaan sejati, nirwana. Walaupun merupakan salah satu dasar bagi pengembangan spiritual, berdana tetap akan menjadi bagian hidup dari seseorang , yang bahkan telah mencapai pencerahan tertinggi seperti seorang Buddha. Beliau melakukan dana ketika berceramah melalui ucapan.

Bentuk dana secara umum dapat dikategorikan menjadi 2 jenis :

1. Dana berwujud, antara lain dana materi seperti memberikan bantuan makanan kepada fakir miskin, memberi sedekah kepada pengemis, donor darah, melakukan donor mata atau organ tubuh, memberikan makanan kepada binatang liar dan lain sebagainya.
2. Dana tidak berwujud, seperti dana waktu, tenaga dan pikiran seperti kita menyisihkan waktu menjenguk teman atau tetangga yang sakit, membantu dalam organisasi sosial seperti bersih-bersih di wihara atau jalan di depan rumah, memberikan nasehat kepada anak-anak. Bentuk lain dari dana ini adalah dana pengetahuan atau pendidikan, dana atau memberi rasa nyaman kepada orang lain melalui senyuman atau membuat orang menjadi semangat dan lebih percaya diri. Dana dalam bentuk pemberian Dharma juga termasuk dana tidak berwujud yang dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan kebenaran, pengertian dan pemahaman benar merupakan jalan menuju pencerahan.

Dalam berdana, kita perlu memperhatikan beberapa faktor yang menentukan kualitas dari dana yang kita lakukan. Kualitas tersebut akan diurutkan dari yang paling penting. Faktor tersebut antara lain:
1. Tingkat Ketulusan, semakin tulus kita dalam berdana, keserakahan dan kemelekatan akan semakin terkikis. Berdana tanpa mengharapkan apapun untuk diri sendiri adalah yang terbaik.
2. Tujuan dana, tujuan untuk mengakhiri penderitaan orang lain lebih mulia daripada untuk kebahagiaan orang lain.
3. Ketepatan dana, semakin membutuhkan orang yang diberi dana atau tepat sasaran sesuai dengan dananya akan semakin baik.
4. Penerima dana, semakin banyak penerima dana dan semakin luhur si penerima dana akan lebih bermanfaat.
5. Cara berdana, cara berdana yang membuat orang semakin luhur atau mengilhami orang untuk berbuat baik akan lebih berguna daripada cara berdana yang membuat orang ain atau penerima dana berasumsi kurang baik.

Perlu kita ketahui bahwa ketika berdana, yang paling utama tentunya adalah ketulusan kita, terlepas dari tepat sasaran atau cara berdana yang kurang tepat. Tentunya akan lebih baik lagi tatkala dana yang kita berikan secara tulus memang dengan tujuan yang baik dan tepat sasaran daripada tulus namun kurang tepat sasaran.

From : Wijaya, Willy Yandi. 2009. Pikiran Benar. Yogyakarta:Insight Vidyasena Production.

Kamis, 16 April 2015

TANPA KEMELEKATAN
(Nekkhamma)

"The Root of Suffering is Attachment." (Buddha)

Pengertian Nekkhama adalah tidak serakah, tidak terikat, melepas, menghentikan, tidak melekat. Di Dalam pandangan benar, salah satu penyempurnaan pandangan benar adalah dengan mengikis keserakahan (lobha) yang merupakan akar dari semua kekotoran batin/pikiran. Pelatihan pikiran tanpa kemelekatan (nekkhama) ini berguna untuk membentuk pikiran tanpa keserakahan yang berulang-ulang, sehingga akan membentuk pandangan yang menghancurkan keserakahan (lobha).

Ajaran Buddha mengajarkan pelepasan atau penghentian kemelekatan. Mengapa harus menekan kemelekatan kita? Kalau kita menyadari kehidupan saat ini, setiap hari kita menjalani hidup dengan  dorongan keserakahan. Setiap saat, sesuatu yang berada di luar kita selalu menggoda. Iklan-iklan di televisi menawarkan berbagai macam barang-barang yang sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan. Kita selalu memuaskan diri dan memanjakan diri di dalam kemelekatan. Sadar atau tidak sadar, sifat serakag dalam diri semakin melekat dan sulit dihilangkan. Keserakahan kita-lah yang telah mengancam bumi dengan kerusakan lingkungan. Keserakahan yang membuat seseorang melakukan korupsi. Kita harus menyadari bahwa keserakahan adalah salah satu penyebab dari berbagai permasalahan di dunia.

Keserakahan terkadang kita samarkan sebagai kebutuhan. Kemelekatan terjadi karena pikiran senantiasa berusaha untuk menyamarkan keserakahan menjadi kebutuhan. Memang pada dasarnya kebutuhan juga mempunyai sifat ingin, karena bila tidak ingin bagaimana bisa didapat? Persoalannya bagaimana kita membedakan antara keinginan yang melekat dengan keinginan untuk kebutuhan. Berbicara mengenai makan, jelas adalah kebutuhan. Jadi keinginan makan untuk kebutuhan adalah wajar dan tidak menimbulkan kemelekatan, namun kita perlu berhati-hati agar keinginan makan tidak menjadi keserakahan makan. Keserakahan makan biasanya terjadi ketika proses akan melakukan makan. Keinginan kita menjadi keserakahan tatkala hidangan yang tersaji lengkap dan banyak di depan mata. Keserakahan berwujud menjadi pengambilan makanan berlebih-lebihan. Sehingga yang terjadi adalah makanan sisa di piring atau selesai dengan perut kenyang.

Cara untuk menghentikan kemelekatan bukanlah dengan jalan menyiksa diri, memenuhi pikiran dengan rasa takut atau muak. Cara-cara seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah, hanya menekan masalah. Seperti memotong cabang-cabang dari suatu pohon yang akan kembali tumbuh ketika diberi pupuk (godaan). Yang diajarkan Sang Buddha adalah suatu pehamamn yang menyeluruh terhadap pikiran sendiri sehingga kita dapat langsung mencabut sampai ke akar-akarnya. Sang Buddha mengajarkan agar kita mengubah cara pandang kita. Didukung dengan renungan mendalam, kita akan menyadari bahwa apa yang selama ini kita pertahankan, suatu saat akan berubah. Suatu saat kita akan mengalami kematian juga. Lalu buat apa kita berusaha mempertahankan  keinginan yang tiada habis-habisnya dan terus melekat padanya?

Cara lain menekan kemelekatan adalah dengan menyadari bahwa dengan sesedikit mungkin keinginan (tidak serakah), kemelekatan kita akan semakin berkurang dan kita akan semakin dekat dengan kebahagiaan sejati atau kedamaian (nirwana).  Kedamaian bukan terletak di luar diri, namun pada pikiran dan perasaan sendiri. Kedamaian bukan didapat dengan memuaskan diri terus-menerus. Kedamaian akan didapat jika tidak ada rasa khawatir, takut maupun benci. Oleh karena itu, semakin sedikit keinginan semakin sedikit pula rasa khawatir atau takut untuk kehilangan karena pikiran tak melekat.

From : Wijaya, Willy Yandi. 2009. Pikiran Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production.

PIKIRAN BENAR

"We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world.
(Buddha) 

Pikiran benar dapat kita tinjau dari dua sisi, yaitu sisi pasif dan aktif. Sisi pasif dari pikiran benar menganjurkan kita untuk menghindari hal-hal yang negatif dari pikiran agar mendukung sisi aktif dari pikiran benar. Sedangkan sisi aktif dari pikiran benar adalah aspek yang harus kita jalankan dan latih untuk menyempurnakan pikiran benar.

"Pikiran layaknya sebuah pena yang akan menggores jejak baru atau sekedar menebalkan jejak lama dalam pandangan seseorang."

Yang dimaksud dengan pikiran benar dari sisi pasif adalah pikiran yang memenuhi tiga ciri, yakni "
1. Tanpa Kemelekatan/Keserakahan (Nekkhama)
2. Tanpa Niat Jahat/Kebencian (Awyapada)
3. Tanpa Kekejaman (Awihimsa)

Sedangkan yang dimaksud pikiran benar dari sisi aktif adalah pikiran yang memenuhi tiga ciri, yaitu :
1. Melepas dengan memberi (Dana)
2. Cinta Kasih (Metta)
3. Welas Asih atau Belas Kasih (Karuna)

Sisi positif lainnya dari pikiran benar yang dapat kita kembangkan adalah dengan pengembangan pikiran:
a. Kebahagiaan Simpati (Mudita)
b. Ketenangseimbangan Batin (Upekkha)
c. Memaafkan (Khamanasila)
d. Keyakinan (Saddha)

Cinta Kasih, Welas Asih, Simpati dan Ketenangseimbangan batin ini secara keseluruhan dinamakan sifat-sifat yang luhur (Brahmawihara). Untuk menyempurnakan pikiran benar, semua sisi positif dari pikiran, baik pasif maupun aktif, harus kita kembangkan terus tanpa batas, sehingga pikiran tersebut akan menyatu dengan pandangan dan terwujudlah melalui tindakan nyata.

From  : Wijaya, Willy Yandi. 2009. Pikiran Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production.


Kebajikan
 Tidak Ada Ajahn Chah



Berhati-hatilah menjaga sila kita. Kebajikan adalah inti dari rasa malu. Apa yang kita ragukan, seharusnya kita tidak lakukan atau katakan. Itulah kebajikan. Kemurnian melewati semua keraguan.

Ada dua tingkat latihan. Tingkat pertama membentuk landasan, yaitu pengembangan kebajikan, sila, agar dapat membawa kebahagiaan dan harmonis di antara manusia. Tingkat kedua adalah latihan Dhamma dengan tujuan utama membebaskan batin. Pembebasan adalah sumber dari kebijaksanaan dan kasih sayang dan ini tujuan sesungguhnya dari ajaran Sang Buddha. Mengerti kedua tingkatan ini adalah dasar dari latihan sebenarnya.

Kebajikan dan moral adalah ayah dan ibu dari Dhamma yang berkembang dalam diri kita. Keduanya menyediakan Dhamma dengan memberikan kebutuhan dan bimbingan yang tepat.

Kebajikan adalah dasar untuk dunia yang harmonis dimana manusia dapat hidup benar-benar sebagai manusia dan bukan sebagai binatang. Mengembangkan kebajikan adalah inti dari latihan. Jaga Sila. Kembangkan cinta kasih dan hormati semua yang hidup. Sadarlah dalam semua perbuatan dan ucapan Anda. Gunakan kebajikan untuk membuat hidup Anda sederhana dan murni. Dengan kebajikan sebagai dasar dari segalanya yang Anda lakukan, pikirkan Anda akan menjadi baik, jernih dan tenang. Meditasi akan berkembang dalam lingkungan ini dengan mudah.

Jagalah kebajikan Anda seperti seorang tukang kebun menjaga tanamannya. Jangan melekat pada yang besar atau kecil, penting atau tidak penting. Beberapa orang menginginkan jalan pintas. Mereka berkata, "Lupakan konsentrasi, kita langsung pada pandangan terang, lupakan kebajikan kita mulai dengan konsentrasi." Kita memiliki banyak alasan untuk kemelakatan kita.

Usaha benar dan kebajikan bukanlah apa yang Anda lakukan di luar tetapi lebih merupakan kesadaran dan pengendalian diri secara tetap. Jadi berdana, bila diberikan dengan perhatian yang baik, dapat membawa kebahagiaan pada diri sendiri dan orang lain. Tetapi kebajikan harus menjadi akar dari dana ini, agar menjadi murni.

Sang Buddha mengajarkan kita untuk menahan diri sari perbuatan buruk, lakukan perbuatan baik da sucikan hati. Lalu, latihan kita adalah meninggalkan apa yang tidak berharga dan menyimpan apa yang berharga. Apakah Anda masih memiliki sesuatu yang buruk atau tidak terlatih dalam hati? Tentu saja! Lalu mengapa tidak membersihkannya? Tetapi latihan sebenarnya tidak hanya melepaskan yang buruk dan mengembangkan yang baik. Ini hanya bagian dari latihan. Pada akhirnya kita harus melewati keduanya, yang baik dan buruk. Akhirnya hanya ada kebebasan yang meliputi semua dan tanpa nafsu, dimana cinta dan kebijaksanaan mengalir secara alami.

Kita harus memulai dari sini, dimana kita berada, secara langsung dan sederhana. Ketika dua langkah pertama, kebajikan dan pandangan benar, telah dilengkapi, lalu cara ketiga mengatasi kekotoran batin akan terjadi secara alami tanpa pertimbangan. Ketika cahaya dihasilkan, kita tidak lagi khawatir melewati kegelapan, tidak juga ingin tahu kemana kegelapan pergi. Kita hanya tahu bahwa ada cahaya.

Ada tingkatan dalam mempraktekkan sila. Pertama, mengerjakan sebagai peraturan latihan yang diberikan guru kepada kita. Yang kedua muncul ketika kita mengerjakan dan mematuhi sila oleh kita sendiri. Tetapi untuk mereka yang ada di tingkat tertinggi, para Siswa Utama adalah tidak penting membicarakan sila, baik dan buruk. Kebajikan sejati datang dari kebijaksanaan yang mengetahui Empat Kebenaran Mulia dalam hati dan bertingkah laku atas pemahaman ini.

Beberapa bhikku lepas jubah untuk pergi ke garis depan dimana peluru beterbangan melewatinya setiap hari. Mereka lebih memilih hal itu. Mereka benar-benar ingin pergi. Mara bahaya menyergap di sekitar mereka dan mereka tetap saja bersedia untuk pergi. Mengapa mereka tidak meilhat bahaya? Mereka siap mati dengan senjata api tetapi tidak ada yang mau mati untuk mengembangkan kebajikan. Hal ini benar-benar mengherankan, iya kan?

Jumat, 02 Mei 2014

Serba - Serbi

Tidak Ada Ajahn Chah


Salah seorang murid Ajahn Chah punya masalah pada lututnya yang hanya dapat disembuhkan melalui operasi. Biarpun para dokter telah menjamin bahwa lututnya akan sembuh dalam beberapa minggu, berbulan-bulan telah lewat dan tetap saja belum sembuh benar. Ketika ia bertemu Ajahn Chah lagi, ia mengeluh, "Mereka bilang penyembuhannya tidak akan lama. Ini tidak berjalan semestinya." Ajahn Chah tertawa dan berkata, "Bila hal ini tidak seharusnya begini, maka hal ini tidak akan menjadi begni."

Bila seseorang memberimu sebuah pisang yang besar, berwarna kuning, manis dan harum tetapi beracun, akankah Anda memakannya? Tidak, kan! Walaupun kita mengetahui bahwa kesenangan nafsu indera itu "beracun", kita tetap saja maju dan memakannya"!

Lihatlah kekotoran batin Anda, kenalilah seperti Anda mengenal racun seekor kobra. Anda tidak akan menangkap ular kobra karena Anda mengetahui bahwa ular kobra itu dapat membunuh Anda. Lihatlah bahaya pada sesuatu yang berbahaya dan manfaatkan sesuatu yang berguna.

Kita selalu merasa tidak puas. Dalam buah yang manis, kita merasa kurang asam, dalam buah asam, kita merasa kurang manis.

Bila Anda memiliki sesuatu berbau busuk dalam saku Anda, kemanapun Anda pergi tetap saja akan berbau busuk. Jangan salahkan tempatnya.

Agama Buddha di Timur, sekarang, seperti sebuah pohon besar terlihat penuh keagungan, tetapi hanya dapat memberi buah yang hambar dan kecil. Agama Buddha di Barat seperti pohon muda, belum mampu memberikan buah, tetapi memiliki potensi untuk memberikan buah yang besar dan manis.

Orang zaman sekarang terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak hal yang diminati, tetapi tidak ada satupun yang membimbing mereka menuju penyelesaian yang benar.

Orang selalu melihat ke luar, pada seseorang dan benda. Mereka melihat sebuah ruangan besar , sebagai contoh, lalu berkata, "Oh, ruangan ini sangat besar!" Sebenarnya tidak terlalu besar. Bagaimanapun terlihat, tergantung pada cara pandang Anda terhadapnya. Kenyataannya ruang besar ini memiliki ukuran semestinya, tidak besar maupun kecil. Orang, bagaimanapun juga, mengikuti perasaannya tiap saat. Mereka sangat sibuk mencari dan berpendapat tentang apa yang dilihat dan tidak memiliki waktu untuk melihat dirinya sendiri.

Menganggap diri kita lebih baik daripada orang lain adalah tidak benar. Menanggap bahwa diri kita sejajar dengan lainnya adalah tidak benar. Menganggap bahwa diri kita lebih rendah dari orang lain adalah tidak benar. Bila kita menganggap kita lebih baik daripada yang lainnya, kesombongan akan muncul. Bila kita berpikir bahwa diri kita sederajat dengan lainnya , kita gagal untuk menunjukkan hormat dan rendah hati pada waktu yang tepat. Bila kita berpikir lebih rendah dari orang lain, kita menjadi tertekan memikirkan kita lebih rendah, terlahir di bawah naungan bintang yang buruk dan sebagainya. Lepaskanlah semuanya!

Kenalilah tubuh Anda sendiri, hati dan pikiran. Puaslah terhadap hal yang kecil. Jangan melekat pada ajaran. Jangan terpaku dan terikat pada emosi.

Suatu ketika seorang pengunjung bertanya pada Ajahn Chah apakah ia seorang Arahat. Ajahn Chah menjawab "Saya seperti pohon di hutan. Burung datang ke pohon, hinggap di dahan dan makan buah. Bagi burung, buahnya mungkin manis atau asam atau lainnya. Tetapi pohon itu tidak mengetahui apapun. Burung itu berkata manis atau berkata asam, tetapi dari sudut pandang pohon itu, hal ini hanyalah celoteh burung."


Kamma

from : Tidak ada Ajahn Chah



Ketika orang yang tidak mengerti Dhamma melakukan hal yang tidak seharusny, mereka akan melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun melihatnya. Tetapi kamma kita selalu melihat. Kita tidak benar-benar bisa kabur dari apapun.

Perbuatan baik menimbulkan hasil baik, perbuatan buruk menimbulkan hasil yang buruk. Jangan mengharapkan para dewa melakukan sesuatu untukmu atau para malaikat dan dewa penjaga melindungimu atau hari yang menguntungkan menolongmu. Karena semua hal ini tidak benar. Jangan percaya padanya. Jika Anda percaya, Anda akan menderita. Anda akan selalu menunggu hari yang tepat, bulan yang tepat, tahun yang tepat, para malaikat atau dewa penolong. Anda akan menderita walau hanya dengan cara itu. Lihatlah dalam perbuatan dan ucapan Anda, dalam Kamma Anda sendiri. Melakukan perbuatan baik, Anda akan mewarisi kebaikan, melakukan perbuatan buruk, Anda akan mewarisi keburukan.

Melalui latihan benar, Anda membiarkan kamma lampau keluar dengan sendirinya. Mengetahui bagaimana semua ini muncul dan pergi, Anda hanya bisa mewaspadai dan membiarkan (kamma) berlari di jalurnya. Seperti mempunyai dua pohon dan tidak mengurusi pohon yang lain, tidak akan ada pertanyaan mana yang akan tumbuh dan mana yang akan mati.

Beberapa dari Anda telah datang dari tempat yang beribu-ribu mil jauhnya, dari Eropa, Amerika dan tempat lainnya untuk mendengarkan dhamma disini, di Vihara Nong Pah Pong. Berpikir bahwa Anda telah datang dari tempat yang sangat jauhdan melewati banyak rintangan untuk kesini. Lalu berpikir bahwa ada orang-orang yang tinggal hanya di luar tembok ini tetapi belum pernah memasuki pagar vihara ini. Ini membuat Anda semakin menghargai kamma baik bukan?

Ketika Anda melakukan perbuatan buruk, tidak ada tempat bagi Anda untuk bersembuyi. Bahkan jika orang lain tidak melihat, kamu dapat melihat diri Anda sendiri. Bahkan jika Anda masuk kedalam lubang yang dalam, Anda tetap akan menemui dirimu sendiri disana. Tidak mungkin Anda melakukan perbuatan perbuatan buruk dan kabur darinya. Dengan cara yang sama, mengapa Anda tidak melihat kesucian sendiri? Anda akan melihat semuanya. Kedamaian, pergolakan, kebebasan, keterikatan, Anda akan melihat ini semua untuk Anda sendiri.

Minggu, 06 Januari 2013



Dasa Parami (Perfection)

Dana Parami

1.     Dana, diajarkan dalam urutan pertama 
a.         Karena kedermawanan pasti ada dalam diri banyak orang dan dengan demikian adalah milik semua makhluk;
b.        Karena tidak bergitu berbuah seperti Sila, dan seterusnya
c.         Karena sangat mudah dipraktikkan
Sila Parami

2.      Sila, disebutkan segera setelah kedermawanan
a.         Karena Sila menyucikan kedua pihak, si pemberi dan si penerima
b.        Setelah memberikan ajaran sebagai balasan dari kebajikan makhluk lain (seperti dana), Buddha ingin mengajarkan agar menghindari menyakiti makhluk lain seperti membunuh.
c.         Karena dana melibatkan tindakan melakukan sedangkan sila melibatkan tindakan tidak melakukan dan Buddha ingin mengajarkan tidak melakukan setelah melakukan tindakan positif (seperti dana makanan).
d.        Karena dana mengarah pada memiliki kekayaan dan sila mengarah pada kelahiran di alam manusia dan dewa.
e.         Karena Buddha ingin mengajarkan pencapaian kelahiran di alam manusia atau dewa setelah mengajarkan pencapaian kekayaan.
Nekkhama Parami

3.      Melepaskan Keduniawian, disebut setelah sila
a.         Karena melalui Melepaskan Keduniawian, sila yang sempurna dapat dijalankan
b.        Karena Buddha ingin mengajarkan tindakan batin yang baik  (melalui pertapaan) segera setelah mengajarkan tindakan jasmani dan ucapan yang baik (melalui sila)
c.         Karena pencapaian Jhana dapat dengan mudah diperoleh bagi seseorang yang menjalani sila dengan sempurna.
d.        Cacat yang muncul karena perbuatan yang tidak baik (kammaparadha) dapat dihilangkan melalui pelaksanaan sila ; dengan melakukan demikian, kesucian tindakan yang dilakukan melalui jasmani dan ucapan (payoga-suddhi) dapat dicapai. Kotoran batin (kilesa-paradha) dapat dihilangkan melalui pertapaan ; dengan demikian unsur-unsur turunan dari pandangan salah mengenai keabadian (sassatadithi) dan pemusnahan (uccheda-ditthi) dapat dihilangkan dan kesucian watak (asaya-suddhi) sehubungan dengan pengetahuan Pandangan Cerah (Vipassana Nana) dan Pengetahuan bahwa kehendak adalah milik seseorang (Kammassakata Nana) dapat dicapai. Karena Buddha ingin mengajarkan penyucian pengetahuan dengan Melepaskan Keduniawian yang mengikuti penyucian daya upaya (payoga-suddhi)
e.         Karena Buddha ingin mengajarkan bahwa melenyapkan kotoran batin pada tahap pariyutthana melalui pertapaan hanya dapat terjadi setelah melenyapkan kotoran batin pada tahap vitikkama melalui moralitas.
Panna Parami

4.      Kebijaksanaan, disebutkan setelah Melepaskan Keduniawian
a.         Karena Melepaskan Keduniawian disucikan dan disempurnakan oleh kebijaksanaan
b.        Karena Buddha ingin mengajarkan bahwa tidak ada Kebijaksanaan tanpa Jhana (pertapaan)
c.         Karena Buddha ingin mengajarkan bahwa Kebijaksanaan adalah penyebab utama penyebab utama bagi Ketenangseimbangan, segera setelah mengajarkan bahwa Melepas Keduniawian adalah penyebab utama bagi konsentrasi pikiran
d.        Karena Buddha ingin mengajarkan bahwa hanya dengan terus menerus memikirkan (pertapaan) kesejahteraan makhluk-makhluk lain dapat memunculkan pengetahuan akan ketrampilan (Upaya-kosalla Nanan) demi kesejahteraan makhluk-makhluk lain.
Viriya Parami

5.      Usaha, disebutkan setelah Kebijaksanaan
a.         Karena kebijaksanaan dipenuhi oleh adanya usaha
b.        Karena Buddha ingin mengajarkan betapa menakjubkannnya usaha menyejahterakan makhluk-makhluk setelah mengajarkan Kebijaksanaan yang terdiri dari Pandangan Cerah mengenai ciri atau fakta mengenai tidak adanya diri atau aku.
c.         Karena Buddha ingin mengajarkan penyebab dari daya upaya setelah penyebab dari keseimbangan
d.        Karena Buddha ingin mengajarkan bahwa manfaat yang besar hanya dapat diperoleh dari usaha yang bersemangat setelah melakukan pertimbangan yang matang.
Khanti Parami

6.      Kesabaran, disebutkan setelah Usaha
a.         Karena Kesabaran dipenuhi oleh Usaha (karena hanya seseorang yang berusaha yang dapat bertahan dalam berbagai penderitaan yang dialaminya)
b.        Karena Buddha ingin mengajarkan usaha adalah hiasan bagi Kesabaran (karena kesabaran yang diperlihatkan oleh seorang yang malas karena ia tidak dapat memenangkannya adalah tidak berharga, sebaliknya kesabaran yang diperlihatkan oleh seorang yang berusaha terlepas ia dapat memenangkannya atau tidak adalah layak mendapat penghargaan
c.         Karena Buddha ingin mengajarkan penyebab dari Konsentrasi segera setelah ia mengajarkan penyebab dari Usaha (sebagai kegelisahan, uddhacca, karena Usaha yang berlebihan dapat ditinggalkan hanya dengan pemahaman akan Dhamma dengan cara merenungkannya, dhammanijjhanakkhanti
d.        Karena Buddha ingin mengajarkan bahwa hanya seseorang yang memiliki Usaha dapat terus-menerus berusaha (seperti halnya hanya seseorang dengan kesabaran yang tinggi yang terbebas dari kegelisahan dan selalu dapat melakukan kebajikan.
e.         Karena Buddha ingin mengajarkan bahwa kemelekatan terhadap imbalan tidak dapat muncul jika memiliki perhatian karena seseorang bekerja dengan rajin demi kesejahteraan makhluk lain (karena tidak akan ada kemelekatan jika seseorang merenungkan Dhamma dalam melakukan kebajikan)
f.         Karena Buddha ingin mengajarkan Bodhisatta memiliki kesabaran terhadap penderitaan yang disebabkan oleh makhluk lain meskipun pada saat ia tidak bisa mengusahakan kesejahteraan mereka.
Sacca Parami

7.      Kejujuran, disebut segera setelah Kesabaran
a.         Karena Kesabaran akan dapat dijaga dan bertahan lama melalui Kejujuran karena Kesabaran seseorang hanya akan bertahan jika seseorang tersebut jujur.
b.        Karena telah disebutkan tadi bahwa Kesabaran terhadap perbuatan salah yang dilakukan oleh makhluk lain, Buddha ingin mengajarkan selanjutnya bagaimana Bodhisatta menepati kata-katanya untuk membantu mereka yang bahkan berbuat jahat terhadapnya. (Sejak menerima ramalan, Bodhisatta berkeinginan untuk mencapai Kebuddhaan dan bertekad untuk menyelamatkan semua makhluk. Untuk menepati tekadnya itu, ia memberikan bantuan bahkan kepada mereka yang berbuat jahat kepadanya. Sebagai ilustrasi, dalam Mahakapi Jataka, sebuah kisah mengenai Bodhisatta dalam kehidupannya sebagai seekor monyet yang menyelamatkan  seseorang yang terjatuh ke jurang yang dalam. Lelah karena berusaha keras menyelamatkan orang tersebut dari bahaya, Bodhisatta dengan penuh kepercayaaan, jatuh tertidur di pangkuan orang yang diselamatkannya. Dengan pikiran jahat (memakan daging penolongnya), orang jahat tersebut memukul kepala monyet tersebut dengan menggunakan batu. Tanpa menunjukkan kemarahan dan dengan sabar menderita luka di kepalanya, Bodhisatta melanjutkan usahanya menolong orang tersebut dari bahaya binatang buas. Ia menunjukkan jalan keluar dari hutan dengan tetesan darah yang jatuh saat ia melompat dari satu pohon ke pohon lain.
c.         Karena Buddha ingin menunjukkan bahwa seorang Bodhisatta dengan penuh toleransi tidak pernah lengah dalam berlatih mengatakan hanya yang sebenarnya dengan sungguh-sungguh meskipun ia difitnah oleh orang lain.
d.        Karena setelah mengajarkan meditasi perenungan sehingga konsep tanpa diri dapat dipahami, Bodhisatta ingin menunjukkan Kebijaksanaan Kejujuran yang dikembangkan melalui perenungan tersebut.
Adhitthana Parami

8.      Tekad, disebut segera setelah Kejujuran
a.         Karena Kejujuran dicapai melalui Tekad karena tidak berkata salah dapat menjadi sempurna dalam diri seseorang yang memiliki Tekad untuk berkata benar tidak tergoyahkan bahkan dengan risiko hidupnya.
b.        Karena setelah mengajarkan Kejujuran, Buddha ingin mengajarkan tekad dan komitmen dari seorang Bodhisatta akan kejujuran dengan tanpa ragu-ragu.
c.         Karena setelah mengajarkan bahwa hanya mereka yang memiliki Kebijaksanaan akan kebenaran terhadap berbagai hal (yang sangatlah jarang) yang dapat membangun Kesempurnaan dan membawa mereka kepada pemenuhan Kesempurnaan, Buddha ingin mengajarkan prasyarat Parami tersebut dapat dipengaruhi  sebagai hasil dari Kebijaksanaan akan Kebenaran.
Metta Parami

9.      Cinta Kasih, disebut setelah Tekad
a.       Karena pengembangan Cinta Kasih dapat membantu dalam pemenuhan Tekad untuk melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan makhluk lain.
b.      Karena setelah mengajarkan tekad, Buddha ingin mengajarkan apa yang membawa manfaat kepada makhluk lain sesuai dengan tekadnya (bagi seorang Bodhisatta dalam memenuhi kesempurnaannya, biasanya hidup dalam cinta kasih) ;
c.       Karena jika seseorang dapat merasa puas dalam kepastian untuk bekerja demi kesejahteraan makhluk lain, seseorang dapat mencapai cita-citanya dengan cinta kasih.
Upekkha Parami

10.  Ketenangseimbangan, disebut setelah Cinta Kasih
a.       Karena Ketenangseimbangan menyucikan Cinta Kasih (jika seseorang mengembangkan Cinta Kasih tanpa Ketenangseimbangan, seseorang dapat tertipu oleh kemelekatan atau keserakahan yang bertopeng Cinta Kasih). Hanya jika seseorang melatih Ketenangseimbangan, seseorang dapat jauh dari tipuan kemelakatan atau keserakahan.
b.      Karena setelah mengajarkan bagaimana ketertarikan  terhadap makhluk lain dapat menjadi Cinta Kasih, Buddha ingin  mengajarkan bahwa ketidakberbedaan tersebut harus dipertahankan ke arah semua keburukan yang ditimbulkannya. (Bodhisatta bekerja demi kesejahteraan makhluk lain dengan Cinta Kasih ; Ia menjaga batin-Nya yang seimbang, memaafkan mereka yang bersalah kepada-Nya.
c.       Karena setelah mengajarkan pengembangan Cinta Kasih, Buddha ingin mengajarkan manfaat-manfaatnya, hanya setelah melatih Cinta Kasih, maka Ketenangseimbangan dapat berhasil dikembangkan.
d.      Buddha ingin mengajarkan sifat-sifat baik (dari seorang Bodhisatta) yang dapat tetap sama bahkan kepada mereka yang baik kepadanya.

-Be Happy-

Sumber : Riwayat Agung Para Buddha