Minggu, 31 Januari 2016

Gelas yang Pecah



Kamu mungkin bisa berkata, " Jangan pecahkan gelas saya!" Tetapi kamu tidak bisa mencegah benda yang bisa pecah menjadi pecah. Jika ia tidak pecah sekarang, ia akan pecah suatu waktu. jika kamu tidak membuatnya pecah, orang lain akan. Jika orang lain tidak memecahkannya, salah satu dari ayam-ayam itu akan!

Sang Buddha mengajarkan untuk menerima hal ini. Dia memahami segala sesuatu seperti melihat bahwa gelas ini sudah pecah. Gelas yang belum pecah ini, Beliau meminta kita untuk mengetahui bahwa gelas itu sudah pecah. Kapanpun kamu mengambil gelas tersebut, menuangkan air ke dalamnya, minum dari gelas tersebut dan meletakkannya, Beliau memberitahu kita untuk melihat bahwa gelas tersebut sudah pecah.

Pemahaman Buddha adalah seperti berikut. Dia melihat gelas pecah di dalam gelas yang tidak pecah. Ketika saatnya telah tiba, gelas ini akan pecah. Kembangkan cara berpikir ini. Pakailah gelas tersebut, jagalah. Namun jika suatu hari gelas tersebut tergelincir dari tanganmu, "Brakk, pecah!" Tidak masalah. Mengapa tidak masalah? Karena kamu melihatnya sebagai gelas pecah sebelum ia pecah. Paham?

Tetapi pada umumnya orang berkata. " Saya sudah menjaga dengan baik gelas ini. Tidak akan membiarkannya pecah." Kemudian seekor anjing memecahkannya, dan kamu membenci anjing tersebut. Jika anakmu memecahkannya, kamu membencinya juga. Kamu membenci siapapun yang memecahkannya karena kamu telah membendung dirimu sehingga air tidak bisa mengalir. Kamu telah membuat sebuah bendungan dengan tanpa sebuah saluran pembuangan. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh bendungan tersebut adalah meledak, bukan? Ketika kamu membuat bendungan  kamu harus membuat sebuah saluran pembuangan juga. Ketika air naik hingga ke tingkat tertentu, air tersebut dapat mengalir keluar dengan aman ke pinggiran. Ketika air tersebut penuh hingga ke tepi, ia akan mengalir keluar melalui saluran pembuangan. Kamu harus memiliki sebuah saluran pembuangan seperti ini. Memahami ketidakekalan adalah saluran pembuangn Sang Buddha. Ketika kamu memandang segala sesuatu dengan cara ini, kamu akan mencapai kedamaian. Itulah Praktek Dhamma.


From : Perumpamaan Dhamma by Ajahn Chah.

Jumat, 17 April 2015

MELEPAS DENGAN MEMBERI
(DANA)

"Give, even if you only have a little." -Buddha-

Sisi aktif dari pikiran tanpa kemelekatan adalah dengan pikiran yang melepas. Wujud dari pikiran yang melepas adalah dengan melaksanakannya secara nyata dalam membentuk memberi (dana). Landasan dasar yang paling penting bagi pengembangan spiritual adalah berdana atau pemberian. Di dalam Kitab Tipitaka Pali, berdana merupakan unsur pertama dari tiga dasar tindakan bermanfaat, unsur pertama dari empat sarana yang memberikan manfaat bagi makhluk lain dan unsur pertama dari sepuluh parami atau kesempurnaan.

Dengan berdana (mengembangkan kedermawanan), kita dapat melemahkan keserakahan  (lobha) dan kebencian (dosa), serta mendorong keuletan pikiran yang memungkinkan hancurnya kegelapan batin (moha). Hingga akhirnya akan membawa kepada kebahagiaan sejati, nirwana. Walaupun merupakan salah satu dasar bagi pengembangan spiritual, berdana tetap akan menjadi bagian hidup dari seseorang , yang bahkan telah mencapai pencerahan tertinggi seperti seorang Buddha. Beliau melakukan dana ketika berceramah melalui ucapan.

Bentuk dana secara umum dapat dikategorikan menjadi 2 jenis :

1. Dana berwujud, antara lain dana materi seperti memberikan bantuan makanan kepada fakir miskin, memberi sedekah kepada pengemis, donor darah, melakukan donor mata atau organ tubuh, memberikan makanan kepada binatang liar dan lain sebagainya.
2. Dana tidak berwujud, seperti dana waktu, tenaga dan pikiran seperti kita menyisihkan waktu menjenguk teman atau tetangga yang sakit, membantu dalam organisasi sosial seperti bersih-bersih di wihara atau jalan di depan rumah, memberikan nasehat kepada anak-anak. Bentuk lain dari dana ini adalah dana pengetahuan atau pendidikan, dana atau memberi rasa nyaman kepada orang lain melalui senyuman atau membuat orang menjadi semangat dan lebih percaya diri. Dana dalam bentuk pemberian Dharma juga termasuk dana tidak berwujud yang dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan kebenaran, pengertian dan pemahaman benar merupakan jalan menuju pencerahan.

Dalam berdana, kita perlu memperhatikan beberapa faktor yang menentukan kualitas dari dana yang kita lakukan. Kualitas tersebut akan diurutkan dari yang paling penting. Faktor tersebut antara lain:
1. Tingkat Ketulusan, semakin tulus kita dalam berdana, keserakahan dan kemelekatan akan semakin terkikis. Berdana tanpa mengharapkan apapun untuk diri sendiri adalah yang terbaik.
2. Tujuan dana, tujuan untuk mengakhiri penderitaan orang lain lebih mulia daripada untuk kebahagiaan orang lain.
3. Ketepatan dana, semakin membutuhkan orang yang diberi dana atau tepat sasaran sesuai dengan dananya akan semakin baik.
4. Penerima dana, semakin banyak penerima dana dan semakin luhur si penerima dana akan lebih bermanfaat.
5. Cara berdana, cara berdana yang membuat orang semakin luhur atau mengilhami orang untuk berbuat baik akan lebih berguna daripada cara berdana yang membuat orang ain atau penerima dana berasumsi kurang baik.

Perlu kita ketahui bahwa ketika berdana, yang paling utama tentunya adalah ketulusan kita, terlepas dari tepat sasaran atau cara berdana yang kurang tepat. Tentunya akan lebih baik lagi tatkala dana yang kita berikan secara tulus memang dengan tujuan yang baik dan tepat sasaran daripada tulus namun kurang tepat sasaran.

From : Wijaya, Willy Yandi. 2009. Pikiran Benar. Yogyakarta:Insight Vidyasena Production.

Kamis, 16 April 2015

TANPA KEMELEKATAN
(Nekkhamma)

"The Root of Suffering is Attachment." (Buddha)

Pengertian Nekkhama adalah tidak serakah, tidak terikat, melepas, menghentikan, tidak melekat. Di Dalam pandangan benar, salah satu penyempurnaan pandangan benar adalah dengan mengikis keserakahan (lobha) yang merupakan akar dari semua kekotoran batin/pikiran. Pelatihan pikiran tanpa kemelekatan (nekkhama) ini berguna untuk membentuk pikiran tanpa keserakahan yang berulang-ulang, sehingga akan membentuk pandangan yang menghancurkan keserakahan (lobha).

Ajaran Buddha mengajarkan pelepasan atau penghentian kemelekatan. Mengapa harus menekan kemelekatan kita? Kalau kita menyadari kehidupan saat ini, setiap hari kita menjalani hidup dengan  dorongan keserakahan. Setiap saat, sesuatu yang berada di luar kita selalu menggoda. Iklan-iklan di televisi menawarkan berbagai macam barang-barang yang sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan. Kita selalu memuaskan diri dan memanjakan diri di dalam kemelekatan. Sadar atau tidak sadar, sifat serakag dalam diri semakin melekat dan sulit dihilangkan. Keserakahan kita-lah yang telah mengancam bumi dengan kerusakan lingkungan. Keserakahan yang membuat seseorang melakukan korupsi. Kita harus menyadari bahwa keserakahan adalah salah satu penyebab dari berbagai permasalahan di dunia.

Keserakahan terkadang kita samarkan sebagai kebutuhan. Kemelekatan terjadi karena pikiran senantiasa berusaha untuk menyamarkan keserakahan menjadi kebutuhan. Memang pada dasarnya kebutuhan juga mempunyai sifat ingin, karena bila tidak ingin bagaimana bisa didapat? Persoalannya bagaimana kita membedakan antara keinginan yang melekat dengan keinginan untuk kebutuhan. Berbicara mengenai makan, jelas adalah kebutuhan. Jadi keinginan makan untuk kebutuhan adalah wajar dan tidak menimbulkan kemelekatan, namun kita perlu berhati-hati agar keinginan makan tidak menjadi keserakahan makan. Keserakahan makan biasanya terjadi ketika proses akan melakukan makan. Keinginan kita menjadi keserakahan tatkala hidangan yang tersaji lengkap dan banyak di depan mata. Keserakahan berwujud menjadi pengambilan makanan berlebih-lebihan. Sehingga yang terjadi adalah makanan sisa di piring atau selesai dengan perut kenyang.

Cara untuk menghentikan kemelekatan bukanlah dengan jalan menyiksa diri, memenuhi pikiran dengan rasa takut atau muak. Cara-cara seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah, hanya menekan masalah. Seperti memotong cabang-cabang dari suatu pohon yang akan kembali tumbuh ketika diberi pupuk (godaan). Yang diajarkan Sang Buddha adalah suatu pehamamn yang menyeluruh terhadap pikiran sendiri sehingga kita dapat langsung mencabut sampai ke akar-akarnya. Sang Buddha mengajarkan agar kita mengubah cara pandang kita. Didukung dengan renungan mendalam, kita akan menyadari bahwa apa yang selama ini kita pertahankan, suatu saat akan berubah. Suatu saat kita akan mengalami kematian juga. Lalu buat apa kita berusaha mempertahankan  keinginan yang tiada habis-habisnya dan terus melekat padanya?

Cara lain menekan kemelekatan adalah dengan menyadari bahwa dengan sesedikit mungkin keinginan (tidak serakah), kemelekatan kita akan semakin berkurang dan kita akan semakin dekat dengan kebahagiaan sejati atau kedamaian (nirwana).  Kedamaian bukan terletak di luar diri, namun pada pikiran dan perasaan sendiri. Kedamaian bukan didapat dengan memuaskan diri terus-menerus. Kedamaian akan didapat jika tidak ada rasa khawatir, takut maupun benci. Oleh karena itu, semakin sedikit keinginan semakin sedikit pula rasa khawatir atau takut untuk kehilangan karena pikiran tak melekat.

From : Wijaya, Willy Yandi. 2009. Pikiran Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production.

PIKIRAN BENAR

"We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world.
(Buddha) 

Pikiran benar dapat kita tinjau dari dua sisi, yaitu sisi pasif dan aktif. Sisi pasif dari pikiran benar menganjurkan kita untuk menghindari hal-hal yang negatif dari pikiran agar mendukung sisi aktif dari pikiran benar. Sedangkan sisi aktif dari pikiran benar adalah aspek yang harus kita jalankan dan latih untuk menyempurnakan pikiran benar.

"Pikiran layaknya sebuah pena yang akan menggores jejak baru atau sekedar menebalkan jejak lama dalam pandangan seseorang."

Yang dimaksud dengan pikiran benar dari sisi pasif adalah pikiran yang memenuhi tiga ciri, yakni "
1. Tanpa Kemelekatan/Keserakahan (Nekkhama)
2. Tanpa Niat Jahat/Kebencian (Awyapada)
3. Tanpa Kekejaman (Awihimsa)

Sedangkan yang dimaksud pikiran benar dari sisi aktif adalah pikiran yang memenuhi tiga ciri, yaitu :
1. Melepas dengan memberi (Dana)
2. Cinta Kasih (Metta)
3. Welas Asih atau Belas Kasih (Karuna)

Sisi positif lainnya dari pikiran benar yang dapat kita kembangkan adalah dengan pengembangan pikiran:
a. Kebahagiaan Simpati (Mudita)
b. Ketenangseimbangan Batin (Upekkha)
c. Memaafkan (Khamanasila)
d. Keyakinan (Saddha)

Cinta Kasih, Welas Asih, Simpati dan Ketenangseimbangan batin ini secara keseluruhan dinamakan sifat-sifat yang luhur (Brahmawihara). Untuk menyempurnakan pikiran benar, semua sisi positif dari pikiran, baik pasif maupun aktif, harus kita kembangkan terus tanpa batas, sehingga pikiran tersebut akan menyatu dengan pandangan dan terwujudlah melalui tindakan nyata.

From  : Wijaya, Willy Yandi. 2009. Pikiran Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production.


Kebajikan
 Tidak Ada Ajahn Chah


Berhati-hatilah menjaga sila kita. Kebajikan adalah inti dari rasa malu. Apa yang kita ragukan, seharusnya kita tidak lakukan atau katakan. Itulah kebajikan. Kemurnian melewati semua keraguan.

Ada dua tingkat latihan. Tingkat pertama membentuk landasan, yaitu pengembangan kebajikan, sila, agar dapat membawa kebahagiaan dan harmonis di antara manusia. Tingkat kedua adalah latihan Dhamma dengan tujuan utama membebaskan batin. Pembebasan adalah sumber dari kebijaksanaan dan kasih sayang dan ini tujuan sesungguhnya dari ajaran Sang Buddha. Mengerti kedua tingkatan ini adalah dasar dari latihan sebenarnya.

Kebajikan dan moral adalah ayah dan ibu dari Dhamma yang berkembang dalam diri kita. Keduanya menyediakan Dhamma dengan memberikan kebutuhan dan bimbingan yang tepat.

Kebajikan adalah dasar untuk dunia yang harmonis dimana manusia dapat hidup benar-benar sebagai manusia dan bukan sebagai binatang. Mengembangkan kebajikan adalah inti dari latihan. Jaga Sila. Kembangkan cinta kasih dan hormati semua yang hidup. Sadarlah dalam semua perbuatan dan ucapan Anda. Gunakan kebajikan untuk membuat hidup Anda sederhana dan murni. Dengan kebajikan sebagai dasar dari segalanya yang Anda lakukan, pikirkan Anda akan menjadi baik, jernih dan tenang. Meditasi akan berkembang dalam lingkungan ini dengan mudah.

Jagalah kebajikan Anda seperti seorang tukang kebun menjaga tanamannya. Jangan melekat pada yang besar atau kecil, penting atau tidak penting. Beberapa orang menginginkan jalan pintas. Mereka berkata, "Lupakan konsentrasi, kita langsung pada pandangan terang, lupakan kebajikan kita mulai dengan konsentrasi." Kita memiliki banyak alasan untuk kemelakatan kita.

Usaha benar dan kebajikan bukanlah apa yang Anda lakukan di luar tetapi lebih merupakan kesadaran dan pengendalian diri secara tetap. Jadi berdana, bila diberikan dengan perhatian yang baik, dapat membawa kebahagiaan pada diri sendiri dan orang lain. Tetapi kebajikan harus menjadi akar dari dana ini, agar menjadi murni.

Sang Buddha mengajarkan kita untuk menahan diri sari perbuatan buruk, lakukan perbuatan baik da sucikan hati. Lalu, latihan kita adalah meninggalkan apa yang tidak berharga dan menyimpan apa yang berharga. Apakah Anda masih memiliki sesuatu yang buruk atau tidak terlatih dalam hati? Tentu saja! Lalu mengapa tidak membersihkannya? Tetapi latihan sebenarnya tidak hanya melepaskan yang buruk dan mengembangkan yang baik. Ini hanya bagian dari latihan. Pada akhirnya kita harus melewati keduanya, yang baik dan buruk. Akhirnya hanya ada kebebasan yang meliputi semua dan tanpa nafsu, dimana cinta dan kebijaksanaan mengalir secara alami.

Kita harus memulai dari sini, dimana kita berada, secara langsung dan sederhana. Ketika dua langkah pertama, kebajikan dan pandangan benar, telah dilengkapi, lalu cara ketiga mengatasi kekotoran batin akan terjadi secara alami tanpa pertimbangan. Ketika cahaya dihasilkan, kita tidak lagi khawatir melewati kegelapan, tidak juga ingin tahu kemana kegelapan pergi. Kita hanya tahu bahwa ada cahaya.

Ada tingkatan dalam mempraktekkan sila. Pertama, mengerjakan sebagai peraturan latihan yang diberikan guru kepada kita. Yang kedua muncul ketika kita mengerjakan dan mematuhi sila oleh kita sendiri. Tetapi untuk mereka yang ada di tingkat tertinggi, para Siswa Utama adalah tidak penting membicarakan sila, baik dan buruk. Kebajikan sejati datang dari kebijaksanaan yang mengetahui Empat Kebenaran Mulia dalam hati dan bertingkah laku atas pemahaman ini.

Beberapa bhikku lepas jubah untuk pergi ke garis depan dimana peluru beterbangan melewatinya setiap hari. Mereka lebih memilih hal itu. Mereka benar-benar ingin pergi. Mara bahaya menyergap di sekitar mereka dan mereka tetap saja bersedia untuk pergi. Mengapa mereka tidak meilhat bahaya? Mereka siap mati dengan senjata api tetapi tidak ada yang mau mati untuk mengembangkan kebajikan. Hal ini benar-benar mengherankan, iya kan?

Jumat, 02 Mei 2014

Serba - Serbi

Tidak Ada Ajahn Chah


Salah seorang murid Ajahn Chah punya masalah pada lututnya yang hanya dapat disembuhkan melalui operasi. Biarpun para dokter telah menjamin bahwa lututnya akan sembuh dalam beberapa minggu, berbulan-bulan telah lewat dan tetap saja belum sembuh benar. Ketika ia bertemu Ajahn Chah lagi, ia mengeluh, "Mereka bilang penyembuhannya tidak akan lama. Ini tidak berjalan semestinya." Ajahn Chah tertawa dan berkata, "Bila hal ini tidak seharusnya begini, maka hal ini tidak akan menjadi begni."

Bila seseorang memberimu sebuah pisang yang besar, berwarna kuning, manis dan harum tetapi beracun, akankah Anda memakannya? Tidak, kan! Walaupun kita mengetahui bahwa kesenangan nafsu indera itu "beracun", kita tetap saja maju dan memakannya"!

Lihatlah kekotoran batin Anda, kenalilah seperti Anda mengenal racun seekor kobra. Anda tidak akan menangkap ular kobra karena Anda mengetahui bahwa ular kobra itu dapat membunuh Anda. Lihatlah bahaya pada sesuatu yang berbahaya dan manfaatkan sesuatu yang berguna.

Kita selalu merasa tidak puas. Dalam buah yang manis, kita merasa kurang asam, dalam buah asam, kita merasa kurang manis.

Bila Anda memiliki sesuatu berbau busuk dalam saku Anda, kemanapun Anda pergi tetap saja akan berbau busuk. Jangan salahkan tempatnya.

Agama Buddha di Timur, sekarang, seperti sebuah pohon besar terlihat penuh keagungan, tetapi hanya dapat memberi buah yang hambar dan kecil. Agama Buddha di Barat seperti pohon muda, belum mampu memberikan buah, tetapi memiliki potensi untuk memberikan buah yang besar dan manis.

Orang zaman sekarang terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak hal yang diminati, tetapi tidak ada satupun yang membimbing mereka menuju penyelesaian yang benar.

Orang selalu melihat ke luar, pada seseorang dan benda. Mereka melihat sebuah ruangan besar , sebagai contoh, lalu berkata, "Oh, ruangan ini sangat besar!" Sebenarnya tidak terlalu besar. Bagaimanapun terlihat, tergantung pada cara pandang Anda terhadapnya. Kenyataannya ruang besar ini memiliki ukuran semestinya, tidak besar maupun kecil. Orang, bagaimanapun juga, mengikuti perasaannya tiap saat. Mereka sangat sibuk mencari dan berpendapat tentang apa yang dilihat dan tidak memiliki waktu untuk melihat dirinya sendiri.

Menganggap diri kita lebih baik daripada orang lain adalah tidak benar. Menanggap bahwa diri kita sejajar dengan lainnya adalah tidak benar. Menganggap bahwa diri kita lebih rendah dari orang lain adalah tidak benar. Bila kita menganggap kita lebih baik daripada yang lainnya, kesombongan akan muncul. Bila kita berpikir bahwa diri kita sederajat dengan lainnya , kita gagal untuk menunjukkan hormat dan rendah hati pada waktu yang tepat. Bila kita berpikir lebih rendah dari orang lain, kita menjadi tertekan memikirkan kita lebih rendah, terlahir di bawah naungan bintang yang buruk dan sebagainya. Lepaskanlah semuanya!

Kenalilah tubuh Anda sendiri, hati dan pikiran. Puaslah terhadap hal yang kecil. Jangan melekat pada ajaran. Jangan terpaku dan terikat pada emosi.

Suatu ketika seorang pengunjung bertanya pada Ajahn Chah apakah ia seorang Arahat. Ajahn Chah menjawab "Saya seperti pohon di hutan. Burung datang ke pohon, hinggap di dahan dan makan buah. Bagi burung, buahnya mungkin manis atau asam atau lainnya. Tetapi pohon itu tidak mengetahui apapun. Burung itu berkata manis atau berkata asam, tetapi dari sudut pandang pohon itu, hal ini hanyalah celoteh burung."


Kamma

from : Tidak ada Ajahn Chah



Ketika orang yang tidak mengerti Dhamma melakukan hal yang tidak seharusny, mereka akan melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun melihatnya. Tetapi kamma kita selalu melihat. Kita tidak benar-benar bisa kabur dari apapun.

Perbuatan baik menimbulkan hasil baik, perbuatan buruk menimbulkan hasil yang buruk. Jangan mengharapkan para dewa melakukan sesuatu untukmu atau para malaikat dan dewa penjaga melindungimu atau hari yang menguntungkan menolongmu. Karena semua hal ini tidak benar. Jangan percaya padanya. Jika Anda percaya, Anda akan menderita. Anda akan selalu menunggu hari yang tepat, bulan yang tepat, tahun yang tepat, para malaikat atau dewa penolong. Anda akan menderita walau hanya dengan cara itu. Lihatlah dalam perbuatan dan ucapan Anda, dalam Kamma Anda sendiri. Melakukan perbuatan baik, Anda akan mewarisi kebaikan, melakukan perbuatan buruk, Anda akan mewarisi keburukan.

Melalui latihan benar, Anda membiarkan kamma lampau keluar dengan sendirinya. Mengetahui bagaimana semua ini muncul dan pergi, Anda hanya bisa mewaspadai dan membiarkan (kamma) berlari di jalurnya. Seperti mempunyai dua pohon dan tidak mengurusi pohon yang lain, tidak akan ada pertanyaan mana yang akan tumbuh dan mana yang akan mati.

Beberapa dari Anda telah datang dari tempat yang beribu-ribu mil jauhnya, dari Eropa, Amerika dan tempat lainnya untuk mendengarkan dhamma disini, di Vihara Nong Pah Pong. Berpikir bahwa Anda telah datang dari tempat yang sangat jauhdan melewati banyak rintangan untuk kesini. Lalu berpikir bahwa ada orang-orang yang tinggal hanya di luar tembok ini tetapi belum pernah memasuki pagar vihara ini. Ini membuat Anda semakin menghargai kamma baik bukan?

Ketika Anda melakukan perbuatan buruk, tidak ada tempat bagi Anda untuk bersembuyi. Bahkan jika orang lain tidak melihat, kamu dapat melihat diri Anda sendiri. Bahkan jika Anda masuk kedalam lubang yang dalam, Anda tetap akan menemui dirimu sendiri disana. Tidak mungkin Anda melakukan perbuatan perbuatan buruk dan kabur darinya. Dengan cara yang sama, mengapa Anda tidak melihat kesucian sendiri? Anda akan melihat semuanya. Kedamaian, pergolakan, kebebasan, keterikatan, Anda akan melihat ini semua untuk Anda sendiri.