Minggu, 06 Januari 2013



Dasa Parami (Perfection)

Dana Parami

1.     Dana, diajarkan dalam urutan pertama 
a.         Karena kedermawanan pasti ada dalam diri banyak orang dan dengan demikian adalah milik semua makhluk;
b.        Karena tidak bergitu berbuah seperti Sila, dan seterusnya
c.         Karena sangat mudah dipraktikkan
Sila Parami

2.      Sila, disebutkan segera setelah kedermawanan
a.         Karena Sila menyucikan kedua pihak, si pemberi dan si penerima
b.        Setelah memberikan ajaran sebagai balasan dari kebajikan makhluk lain (seperti dana), Buddha ingin mengajarkan agar menghindari menyakiti makhluk lain seperti membunuh.
c.         Karena dana melibatkan tindakan melakukan sedangkan sila melibatkan tindakan tidak melakukan dan Buddha ingin mengajarkan tidak melakukan setelah melakukan tindakan positif (seperti dana makanan).
d.        Karena dana mengarah pada memiliki kekayaan dan sila mengarah pada kelahiran di alam manusia dan dewa.
e.         Karena Buddha ingin mengajarkan pencapaian kelahiran di alam manusia atau dewa setelah mengajarkan pencapaian kekayaan.
Nekkhama Parami

3.      Melepaskan Keduniawian, disebut setelah sila
a.         Karena melalui Melepaskan Keduniawian, sila yang sempurna dapat dijalankan
b.        Karena Buddha ingin mengajarkan tindakan batin yang baik  (melalui pertapaan) segera setelah mengajarkan tindakan jasmani dan ucapan yang baik (melalui sila)
c.         Karena pencapaian Jhana dapat dengan mudah diperoleh bagi seseorang yang menjalani sila dengan sempurna.
d.        Cacat yang muncul karena perbuatan yang tidak baik (kammaparadha) dapat dihilangkan melalui pelaksanaan sila ; dengan melakukan demikian, kesucian tindakan yang dilakukan melalui jasmani dan ucapan (payoga-suddhi) dapat dicapai. Kotoran batin (kilesa-paradha) dapat dihilangkan melalui pertapaan ; dengan demikian unsur-unsur turunan dari pandangan salah mengenai keabadian (sassatadithi) dan pemusnahan (uccheda-ditthi) dapat dihilangkan dan kesucian watak (asaya-suddhi) sehubungan dengan pengetahuan Pandangan Cerah (Vipassana Nana) dan Pengetahuan bahwa kehendak adalah milik seseorang (Kammassakata Nana) dapat dicapai. Karena Buddha ingin mengajarkan penyucian pengetahuan dengan Melepaskan Keduniawian yang mengikuti penyucian daya upaya (payoga-suddhi)
e.         Karena Buddha ingin mengajarkan bahwa melenyapkan kotoran batin pada tahap pariyutthana melalui pertapaan hanya dapat terjadi setelah melenyapkan kotoran batin pada tahap vitikkama melalui moralitas.
Panna Parami

4.      Kebijaksanaan, disebutkan setelah Melepaskan Keduniawian
a.         Karena Melepaskan Keduniawian disucikan dan disempurnakan oleh kebijaksanaan
b.        Karena Buddha ingin mengajarkan bahwa tidak ada Kebijaksanaan tanpa Jhana (pertapaan)
c.         Karena Buddha ingin mengajarkan bahwa Kebijaksanaan adalah penyebab utama penyebab utama bagi Ketenangseimbangan, segera setelah mengajarkan bahwa Melepas Keduniawian adalah penyebab utama bagi konsentrasi pikiran
d.        Karena Buddha ingin mengajarkan bahwa hanya dengan terus menerus memikirkan (pertapaan) kesejahteraan makhluk-makhluk lain dapat memunculkan pengetahuan akan ketrampilan (Upaya-kosalla Nanan) demi kesejahteraan makhluk-makhluk lain.
Viriya Parami

5.      Usaha, disebutkan setelah Kebijaksanaan
a.         Karena kebijaksanaan dipenuhi oleh adanya usaha
b.        Karena Buddha ingin mengajarkan betapa menakjubkannnya usaha menyejahterakan makhluk-makhluk setelah mengajarkan Kebijaksanaan yang terdiri dari Pandangan Cerah mengenai ciri atau fakta mengenai tidak adanya diri atau aku.
c.         Karena Buddha ingin mengajarkan penyebab dari daya upaya setelah penyebab dari keseimbangan
d.        Karena Buddha ingin mengajarkan bahwa manfaat yang besar hanya dapat diperoleh dari usaha yang bersemangat setelah melakukan pertimbangan yang matang.
Khanti Parami

6.      Kesabaran, disebutkan setelah Usaha
a.         Karena Kesabaran dipenuhi oleh Usaha (karena hanya seseorang yang berusaha yang dapat bertahan dalam berbagai penderitaan yang dialaminya)
b.        Karena Buddha ingin mengajarkan usaha adalah hiasan bagi Kesabaran (karena kesabaran yang diperlihatkan oleh seorang yang malas karena ia tidak dapat memenangkannya adalah tidak berharga, sebaliknya kesabaran yang diperlihatkan oleh seorang yang berusaha terlepas ia dapat memenangkannya atau tidak adalah layak mendapat penghargaan
c.         Karena Buddha ingin mengajarkan penyebab dari Konsentrasi segera setelah ia mengajarkan penyebab dari Usaha (sebagai kegelisahan, uddhacca, karena Usaha yang berlebihan dapat ditinggalkan hanya dengan pemahaman akan Dhamma dengan cara merenungkannya, dhammanijjhanakkhanti
d.        Karena Buddha ingin mengajarkan bahwa hanya seseorang yang memiliki Usaha dapat terus-menerus berusaha (seperti halnya hanya seseorang dengan kesabaran yang tinggi yang terbebas dari kegelisahan dan selalu dapat melakukan kebajikan.
e.         Karena Buddha ingin mengajarkan bahwa kemelekatan terhadap imbalan tidak dapat muncul jika memiliki perhatian karena seseorang bekerja dengan rajin demi kesejahteraan makhluk lain (karena tidak akan ada kemelekatan jika seseorang merenungkan Dhamma dalam melakukan kebajikan)
f.         Karena Buddha ingin mengajarkan Bodhisatta memiliki kesabaran terhadap penderitaan yang disebabkan oleh makhluk lain meskipun pada saat ia tidak bisa mengusahakan kesejahteraan mereka.
Sacca Parami

7.      Kejujuran, disebut segera setelah Kesabaran
a.         Karena Kesabaran akan dapat dijaga dan bertahan lama melalui Kejujuran karena Kesabaran seseorang hanya akan bertahan jika seseorang tersebut jujur.
b.        Karena telah disebutkan tadi bahwa Kesabaran terhadap perbuatan salah yang dilakukan oleh makhluk lain, Buddha ingin mengajarkan selanjutnya bagaimana Bodhisatta menepati kata-katanya untuk membantu mereka yang bahkan berbuat jahat terhadapnya. (Sejak menerima ramalan, Bodhisatta berkeinginan untuk mencapai Kebuddhaan dan bertekad untuk menyelamatkan semua makhluk. Untuk menepati tekadnya itu, ia memberikan bantuan bahkan kepada mereka yang berbuat jahat kepadanya. Sebagai ilustrasi, dalam Mahakapi Jataka, sebuah kisah mengenai Bodhisatta dalam kehidupannya sebagai seekor monyet yang menyelamatkan  seseorang yang terjatuh ke jurang yang dalam. Lelah karena berusaha keras menyelamatkan orang tersebut dari bahaya, Bodhisatta dengan penuh kepercayaaan, jatuh tertidur di pangkuan orang yang diselamatkannya. Dengan pikiran jahat (memakan daging penolongnya), orang jahat tersebut memukul kepala monyet tersebut dengan menggunakan batu. Tanpa menunjukkan kemarahan dan dengan sabar menderita luka di kepalanya, Bodhisatta melanjutkan usahanya menolong orang tersebut dari bahaya binatang buas. Ia menunjukkan jalan keluar dari hutan dengan tetesan darah yang jatuh saat ia melompat dari satu pohon ke pohon lain.
c.         Karena Buddha ingin menunjukkan bahwa seorang Bodhisatta dengan penuh toleransi tidak pernah lengah dalam berlatih mengatakan hanya yang sebenarnya dengan sungguh-sungguh meskipun ia difitnah oleh orang lain.
d.        Karena setelah mengajarkan meditasi perenungan sehingga konsep tanpa diri dapat dipahami, Bodhisatta ingin menunjukkan Kebijaksanaan Kejujuran yang dikembangkan melalui perenungan tersebut.
Adhitthana Parami

8.      Tekad, disebut segera setelah Kejujuran
a.         Karena Kejujuran dicapai melalui Tekad karena tidak berkata salah dapat menjadi sempurna dalam diri seseorang yang memiliki Tekad untuk berkata benar tidak tergoyahkan bahkan dengan risiko hidupnya.
b.        Karena setelah mengajarkan Kejujuran, Buddha ingin mengajarkan tekad dan komitmen dari seorang Bodhisatta akan kejujuran dengan tanpa ragu-ragu.
c.         Karena setelah mengajarkan bahwa hanya mereka yang memiliki Kebijaksanaan akan kebenaran terhadap berbagai hal (yang sangatlah jarang) yang dapat membangun Kesempurnaan dan membawa mereka kepada pemenuhan Kesempurnaan, Buddha ingin mengajarkan prasyarat Parami tersebut dapat dipengaruhi  sebagai hasil dari Kebijaksanaan akan Kebenaran.
Metta Parami

9.      Cinta Kasih, disebut setelah Tekad
a.       Karena pengembangan Cinta Kasih dapat membantu dalam pemenuhan Tekad untuk melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan makhluk lain.
b.      Karena setelah mengajarkan tekad, Buddha ingin mengajarkan apa yang membawa manfaat kepada makhluk lain sesuai dengan tekadnya (bagi seorang Bodhisatta dalam memenuhi kesempurnaannya, biasanya hidup dalam cinta kasih) ;
c.       Karena jika seseorang dapat merasa puas dalam kepastian untuk bekerja demi kesejahteraan makhluk lain, seseorang dapat mencapai cita-citanya dengan cinta kasih.
Upekkha Parami

10.  Ketenangseimbangan, disebut setelah Cinta Kasih
a.       Karena Ketenangseimbangan menyucikan Cinta Kasih (jika seseorang mengembangkan Cinta Kasih tanpa Ketenangseimbangan, seseorang dapat tertipu oleh kemelekatan atau keserakahan yang bertopeng Cinta Kasih). Hanya jika seseorang melatih Ketenangseimbangan, seseorang dapat jauh dari tipuan kemelakatan atau keserakahan.
b.      Karena setelah mengajarkan bagaimana ketertarikan  terhadap makhluk lain dapat menjadi Cinta Kasih, Buddha ingin  mengajarkan bahwa ketidakberbedaan tersebut harus dipertahankan ke arah semua keburukan yang ditimbulkannya. (Bodhisatta bekerja demi kesejahteraan makhluk lain dengan Cinta Kasih ; Ia menjaga batin-Nya yang seimbang, memaafkan mereka yang bersalah kepada-Nya.
c.       Karena setelah mengajarkan pengembangan Cinta Kasih, Buddha ingin mengajarkan manfaat-manfaatnya, hanya setelah melatih Cinta Kasih, maka Ketenangseimbangan dapat berhasil dikembangkan.
d.      Buddha ingin mengajarkan sifat-sifat baik (dari seorang Bodhisatta) yang dapat tetap sama bahkan kepada mereka yang baik kepadanya.

-Be Happy-

Sumber : Riwayat Agung Para Buddha



Money Can't Buy Everything

Ranjang, bukan tidur.
Buku, bukan pengetahuan.
Makanan, bukan selera.
Dandanan, bukan kecantikan.
Bangunan, bukan rumah.
Obat, bukan kesehatan.
Kemewahan, bukan kenyamanan.
Kesenangan, bukan kebahagiaan.
Agama, bukan keselamatan.

Jangan katakan ini punyamu dan ini punyaku.
Katakan saja, ini datang padamu dan padaku.
Sehingga tak perlu menyesali cahaya yang pudar.
Dari semua yang gemerlap, yang akan lenyap.

-Be happy-


Cinta Kasih itu Perlu


Semua makhluk hidup adalah sahabat penderitaan yang rentan terhadap kesulitan. Dalam pikiran kebanyakan umat manusia, ada setumpukan sampah perbuatan buruk, untungnya ada juga gudang kebajikan yang menunggu untuk dibuka. Pilihan untuk mengembangkan kebajikan atau menyerah pada kejahatan benar-benar terletak di tangan sendiri. Kehidupan yang berkecukupan dan berbahagia hanya bias dicapai dengan mengatasi egoism dan mengembangkan niat baik, pengertian dan kebajikan. Seharusnyalah kita tidak mengutuk orang lain dengan mengutip kelemahan-kelemahan mereka dan mengabaikan sifat dan karya mereka yang bermanfaat. 

Kita adalah Satu
Kita adalah tetesan dari satu samudera
Kita adalah ombak dari satu laut
Kita adalah pohon dari satu rimba
Kita adalah buah dari satu pohon
Kita adalah daun dari satu cabang
Kita adalah bunga dari satu kebun
Kita adalah bintang dari satu langit
Kita adalah cahaya dari satu mentari
Kita adalah jari dari satu tangan
Kita adalah anggota dari satu keluarga
Dunia adalah satu keluarga
Bumi adalah satu negeri

Sang Buddha berkata “Kebencian tak akan pernah diakhiri dengan kebencian. Kebencian berakhir oleh cinta kasih. Inilah hukum yang abadi.” Hukum alam ini juga diajarkan oleh Yesus, yang berkata bahwa seseorang mesti mengasihi orang-orang yang membencinya. 
Berbuat baik berarti menghadirkan semua unsur-unsur baik dari dalam alam. Berbuat jahat bearti mengundang unsur-unsur perusak. Mereka yang hidup dalam kebencian akan mati juga dalam kebencian, sepertinya halnya mereka yang hidup dalam jalan pedang akan mati di ujung pedang. Setiap pikiran jahat adalah pedang yang akan menikam balik orang yang menghunusnya. Dengan menyadari fakta ini, seseorang semestinya berhati-hati untuk tidak memelihara kejahatan dan pikiran yang mementingkan diri sendiri. 
Adalah suatu kebenaran spiritual bahwa kejahatan hanya bisa diatasi oleh daya positif kebajikan. Cinta kasih dan belas kasih adalah penawar kebencian. Niat baik adalah penawar kemarahan. Kehadiran suatu daya positif bearti tiadanya daya negatif lawannya. Dengan mengembangkan kasih sayang, belas kasih dan niat baik, kita bisa menjadikan pikiran-pikiran ini menjadi aset yang paling mulia.
Tidak ada apa pun di luar sana yang bisa sedemikian berpengaruh seperti apa yang tinggal di dalam pikiran. Adalah fakta bahwa,“Seperti yang dipikirkannya, demikianlah orang itu.“

Mengalahkan diri sendiri sungguh lebih agung daripada segala penaklukan lainnya; tiada dewa, makhluk halus, Mara atau Brahma, yang bisa merengut kemenangan dari orang yang telah mengalahkan dirinya sendiri dan yang terkendali hidupnya.“ (Dhammapada)
-Be Happy-

Sabtu, 21 Juli 2012

Tanpa Aku


Ketika seseorang tidak mengerti kematian, hidup dapat sangat membingungkan.  Kalau tubuh ini benar-benar milik kita, pasti ia akan mematuhi perintah kita. Jika kita bilang, "Jangan jadi tua," atau "Saya melarangmu untuk sakit," apakah dia mematuhi kita? Tidak! Tubuh ini tidak peduli. Kita hanya menyewa "rumah" ini, tidak memilikinya. Kalau kita berpikir tubuh ini milik kita, kita akan menderita ketika harus meninggalkannya. Tetapi dalam kenyataannya, tidak ada yang abadi, tidak ada yang tidak berubah, atau tetap dimana kita bisa bergantung padanya.
Buddha membuat perbedaan antara kebenaran tertinggi dan kebenaran konvensional. Gagasan tentang diri hanya sebuah konsep   orang Amerika, Thailand, guru, murid, semua adalah konsep. Akhirnya tidak ada yang ada, hanya bumi, api, air dan udara elemen-elemen yang bergabung sementara. Kita memanggil tubuh ini seseorang, diriku, tetapi pada akhirnya tidak ada Aku, hanya ada Anatta, Tanpa Aku. Untuk mengerti Tanpa Aku, Anda harus bermeditasi. Jika Anda hanya berpikir secara intelektual, kepala Anda akan meledak. Sekali Anda mengerti Tanpa Aku dalam hati Anda, beban hidup  akan terangkat. Kehidupan keluarga Anda, pekerjaan Anda, semuanya akan menjadi lebih mudah. Ketika Anda melihat di luar diri, Anda tidak lagi melekat pada kebahagiaan dan ketika Anda tidak lagi melekat pada kebahagiaan, Anda dapat mulai untuk benar-benar bahagia.


Selasa, 22 Mei 2012


Menggenggam Seekor Ular




"Latihan kita disini bukan untuk memahami sesuatu" kata Ajahn Chah pada seorang Bhikkhu baru. "Tetapi, bukankah terkadang kita butuh untuk berpegang pada sesuatu" protes Bhikkhu tersebut. "Dengan tangan, ya, tetapi tidak dengan hati," sang guru menjawab. "Ketika hati memahami apa itu rasa sakit, itu seperti sedang digigit ular. Dan ketika memiliki sebuah keinginan dan menggengam apa yang menyenangkan, itu seperti memegang ekor ular. Dan hanya butuh sedikit waktu bagi kepala ular untuk melilit dan menggigit kamu."

"Tidak menggenggam dan secara sadar menjadi penjaga hatimu, seperti layaknya orang tua. Kemudian, kesenangan dan ketidaksenanganmu akan dipanggil layaknya anak-anak. "Aku tidak suka itu, Ibu. Aku mau lebih banyak, Ayah" Senyum dan katakan "Tentu saja, anakku". "Tapi Ibu, aku sungguh ingin punya seekor gajah." "Tentu saja, anakku" "Aku ingin permen, bisakah kita pergi dengan naik pesawat?" Tidak masalah jika kamu dapat membiarkan mereka datang dan pergi tanpa menggenggamnya."

Sesuatu mengenai indera, timbul rasa suka dan tidak suka dan disanalah delusi. Dengan kesadaran, kebijaksanaan dapat timbul dari pengalaman yang sama.

Jangan takut pada tempat dimana banyak kontak terhadap inderamu.jika kamu harus berada disana. Pencerahan tidak berarti tuli dan buta. Mengucapkan mantra setiap saat untuk menghadang segala dari luar, kamu mungkin akan ditabrak sebuah mobil.. Selalu sadar dan jangan tertipu. Ketika yang lain mengatakan itu cantik, katakan pada diri sendiri, "itu tidak cantik". Ketika yang lain mengatakan sesuati itu enak, katakan pada diri sendiri, "itu tidak enak". Jangan terjebak pada kemelekatan dunia dan penilaian relatif. Lepaskanlah semua.

Diterjemahkan dari buku A Still Forest Pool (Ajahn Chah)

Senin, 14 Mei 2012

Hilangkan Semua Pretensi dan Tersenyumlah


Hilangkan Semua Pretensi dan Tersenyumlah

Hilangkan semua pretensi dan tersenyumlah
Dengan
sabar dan tenang.
Bersikap hormat, baik, dan tulus
Seolah-olah Sang Buddha berdiri di hadapan Anda.

Pretensi kita adalah ekspresi dari ego diri. Sehingga, jika kita adalah praktisi sejati Dharma, kita harus menghilangkan semua pretensi kita, topeng palsu ego-diri. Ego diri merupakan tangan besi dari pintu masuk pikiran, pelindung pertahanan si ‘Aku’. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan waktu secara efektif untuk memutuskan pikiran kita sendiri. Ketika Anda dapat menaklukkan dan menghilangkan ego, Anda akan dapat menghadapi semua orang dengan penuh sukacita. Anda akan dapat melihat setiap orang dengan pikiran tulus Dharma, tersenyum pada mereka dengan hangat, dan menyambut mereka dengan sangat sabar. 

Seorang praktisi sejati Dharma harus memahami bahwa Buddha adalah orang yang telah mencapai Kebuddhaan dan semua orang memiliki potensi menjadi Buddha. Jadi dalam semua keadaan, kita harus memandang semua orang seolah-olah kita berhadapan dengan Sang Buddha.

Kita harus memandang semua Buddha seolah-olah kita melihat semua orang. Dengan demikian, kita melihat Sang Buddha dan semua orang secara seimbang dan sama. Jika kita memandang rendah orang lain dengan pikiran angkuh, itu seperti memandang rendah semua Buddha – tindakan yang salah. Jika kita memandang semua orang seperti kita melihat Sang Buddha di depan kita, kita akan selalu menghargai dan menghormati setiap orang dengan pikiran yang murni dan paling baik.

Ketika Buddha Sakyamuni pertama kali mencapai Kebuddhaan, Ia berkata bahwa tidak ada yang dapat dicapai tanpa rasa hormat. Ini berarti bahwa jika kita tidak memberi rasa hormat dengan tulus kepada orang lain, kita tidak dapat merealisasikan pencapaian apapun. Sang Buddha menghormati semua Buddha dan juga semua orang. Mengapa? Karena Ia sungguh mengerti bahwa tubuh DharmaNya yang sementara ini berasal dari semua Buddha, dan bentuk tubuh-Nya berasal dari semua makhluk.

Ombak welas asih bergelombang seperti lautan,
Purifikasi datang dengan memutuskan ‘Aku’.
Dengan demikian, tugas Bodhi begitu kuat dan luas,
Dengan berani tanpa halangan.

Semua Buddha dan Bodhisatva merupakan manifestasi dari penuh welas asih dan kebijaksanaan. Sebagai praktisi di jalan Bodhisatva, kita harus mengembangkan pikiran welas asih seluas samudera. Kita juga perlu kebijaksanaan untuk menghapus dan memurnikan diri kita sendiri dengan memutuskan ‘Aku’. Dengan demikian, kita harus belajar dengan penuh kebijaksanaan dan welas asih dari para Bodhisattva.

Kata ‘Bodhi’ adalah singkatan dari pikiran Bodhi, aspirasi dalam mencapai penerangan sempurna. Bodhi merupakan ikrar Bodhisattva yang menyatukan sifat penuh welas asih dengan kebijaksanaan. Seseorang yang telah mengembangkan pikiran bodhi selalu muda, tegas dan kuat dalam semangat. Orang seperti ini tidak akan pernah mundur. Dalam pikiran mereka, mereka dapat merangkul dan menjangkau semua makhluk. Mereka takkan terhalang dalam belajar Dharma dan dengan demikian dapat memutuskan "Aku," pikiran tidak nyata dalam diri.

Bedakan dengan jelas antara yang lama dan yang baru,
Bedakan hal
yang mesti ditinggalkan dan dipelihara.
Bedakan dengan jelas apa artinya menenggelamkan dan apa itu membangkitkan,
Bedakan dengan jelas antara yang kotor dan yang murni.

Dalam bait ini, "yang lama" mengacu pada cara-cara kebiasaan lama, cara-cara kekotoran. Sebuah cara lama, misalnya, tidak mampu dengan tegas menegakkan lima sila, cara baru dengan tegas menegakkan lima sila. Jika Anda dapat membedakan dengan jelas antara cara-cara lama dan yang baru, Anda dapat meneruskan untuk menghapus kualitas kekotoran dan memelihara kemurnian, jalan yang bersih.

By : Hendra Kurniawan , diterjemahkan dari Great Bodhi Mind.pdf